Review Film Supernova (2014) 'Sebuah Roman Picisan'



Akhirnya saya membaca novel Supernova, Dee Lestari. Telat beberapa tahun dari boomingnya novel ini.
Saya udah baca sampai buku ketiganya yang berjudul Petir tapi belum diselesaiin karena sayang takut gak punya bacaan lagi kalau udah selesai.

Novel Supernova sendiri bercerita tentang kisah cinta atau roman. Tapi kalau baca novelnya kita bakal disuguhi kata-kata nan indah dari sang penulis Dee Lestari. Bahkan novel ini menggabungkan unsur sains dan roman, jadi bahasanya agak ilmiah dan puitis.

Nah, baru aja kemarin filmnya ditayangin di SCTV. Sebenarnya saya udah tau lama kalau ada filmnya, tapi waktu itu belum bisa nonton, yaudah untung ada versi gratisannya. Nonton di TV 40 inch gak beda jauh sama nonton di bioskop meskipun kualitas gambar yang ditayangkan oleh stasiun tv Indonesia belum HD.

Karena saya penasaran banget dan akhirnya bisa nonton filmnya, maka inilah tulisan kekecewaan saya tentang film karya Rizal Mantovani tersebut. Memang sih kita gak boleh bandingin film sama novelnya, tapi... duh filmnya kok jadi begini banget ya.

Filmnya sendiri yang saya tau diperanin sama 3 aktor yang entah kenapa selalu pas dipasangkan. Raline Shah, Her Junot Ali, dan Fedi Nuril. Seperti di film mereka sebelumnya 5cm yang juga diproduksi sama Soraya Intercine.

Pemilihan Raline sebagai Rana dan Fedi Nuril sebagai Arwin menurut saya udah pas banget, dan gak tau kenapa mereka selalu dipasangkan di beberapa film.

Sosok Rana yang pintar, kuat sekaligus rapuh dapat diperankan dengan baik oleh Raline. Ferre atau Sang Ksatria yang diperankan oleh Her Junot nggak bisa dibilang jelek, tapi entah kenapa saya gak terlalu merasa pas kalau Ferre diperanin sama Junot, tapi saya sendiri belum menemukan aktor Indonesia yang pas untuk memerankan Ferre mungkin kalau aktor luar negeri yang gue bayangin cocok meranin Ferre adalah Chris Evan hahaha.

Fedi Nuril emang selalu kebagian peran cowok baik atau suami yang tersakiti. Dari film Ayat-ayat cinta yang mesti berbagi cinta sama dua cewek, 5cm cintanya gak berbalas ke Raline, dan di film ini juga lagi-lagi dia terlibat cinta segitiga sama Raline dan Junot. Sebuah kebetulan atau emang sengaja dibikin gitu? entahlah.

Sama seperti pada novelnya, film ini dibuka dengan pertemuan Dimas dan Reuben yang diperankan sama Hamish Daud (Dimas) dan Arifin Putra (Reuben). Menurut saya mereka berdua udah pas sih, Arifin Putra dapet banget meranin sosok Reuben yang pinter. Sedangkan Hamish Daud, kok kesannya disini Dimas jadi agak ngondek. Padahal di novelnya meskipun mereka berdua pasangan gay tapi gak lebay gitu.

Pertemuan Dimas dan Reuben di film agak maksa gitu di film. Ada adegan Reuben yang lagi telfonan disamperin sama Dimas dan yang lebih gak masuk akal adalah Reuben nelfonnya pake Blackberry yang kayaknya kalau gak seri Jevelin ya Onyx keliatan dari modelnya. Sedangkan latar belakang cerita tahun 1991, belum ada Blackberry. Bloopers ini sama kayak di film Habibie Ainun dimana ditahun 98an udah ada E-Toll card dan sejumlah merk yang baru ada sekarang.

Kalau untuk kebutuhan sponsor masih bisa dimaklumin sih kayak di film Habibie Ainun itu. Tapi ini Blackberry menurut saya bukan sponsor tapi kelalaian produksi. Oke, dari awal nonton udah bikin kecewa sih.

Banyak dialog atau kata-kata yang diambil dari novel dan gak diganti lagi contohnya pas Rana ketemu Ferre untuk pertama kali di kantor Ferre. Bagus atau buruk? bisa dibilang bagus sih karena kata-kata atau dialog tersebut menjadi salah satu kekuatan cerita

Bintang jatuh atau Diva disini diperankan sama Paula Verhoeven yang memang seorang model. Lagi-lagi saya ngerasa Paula gak begitu cocok memainkan karakter Diva. Meskipun disini Diva adalah seorang model dan Paula juga model tapi rasanya kurang pas aja sama karakter Diva. Sang bintang jatuh atau supernova atau Diva adalah tokoh kunci dari cerita ini. Dia sosok yang memiliki kepribadian yang kuat dan punya banyak identitas. Menjadi model dan pelacur kelas atas hanyalah pekerjaan sampingan untuk menutupi identitas aslinya sebagai Supernova yang serba tahu. Karakter ini menurut saya cocok diperankan sama Nadine Candrawinata yang terlihat dingin tapi juga bisa lembut, pintar dan berani juga berkharisma.

Di film ini kharisma Paula terkalahkan oleh Raline. Padahal Diva sendiri memiliki pesona yang lebih kuat dibandingkan Rana.

Kekecewaan saya gak berhenti sampai situ. Udah mulai bosan menonton dan kebetulan cerita udah memasuki bagian akhir. Berharap di bagian akhir ini saya bisa mendapat ending yang greget ternyata malah bagian akhirnya cerita agak diubah dan itu sangat mengecewakan!

Epik dari cerita Supernova nya gak dapet sama sekali. Kita kayak nonton roman Ferre dan Rana yang tragis atau semacam kasih tak sampai. Padahal di novelnya gak kayak gitu.

Novel Supernova memang sebuah roman. Kisah cinta yang epik yang mendewasakan pembacanya, tapi di filmnya jadi kayak roman ecek-ecek. Kekuatan cerita sama sekali gak dapet, para pemainnya udah bagus tapi justru tokoh utamanya gak digambarkan secara lebih 'wah' dan yah kecewa banget nonton filmnya yang gitu doang.

sekian ungkapan kekecewaan tentang film Supernova. Silahkan berikan komentar dan bantu share blog ini di social media kalian, terima kasih dan selamat malam!

Comments