Review Film : Bulan terbelah di langit Amerika (2016)



Judul blog kali ini terinspirasi dari film Bulan terbelah di langit Amerika.Karena udah lama gak ngomongin film, kali ini aku mau bahas tentang film yang satu itu.
Sebenernya sih udah hampir satu bulan yang lalu nonton film ini di bioskop, tapi baru mood nulis reviewnya sekarang. 
Jadi awalnya berniat nonton film ini karena udah pernah nonton film sebelumnya 99 Cahaya di Langit Eropa, dan film itu lumayan bagus dari segi cerita dan gambar juga premis yang dihadirkan di film itu juga bagus. Makanya pas keluar film ketiganya jadi penasaran bakal kayak gimana filmnya. Eh, ternyata filmnya biasa aja tuh. Terlalu banyak iklan sponsor muncul hampir disetiap scene.

Film ini masih menceritakan tentang perjalanan Hanum (Acha Septriasa)  dan Rangga (Abimana). Sepasang suami isteri itu, kali ini mendapat tugas dari masing-masing atasan mereka yang mengharuskan mereka pergi ke Amerika. Hanum ditugaskan mewawancarai Azima Hussein (Rianti Cartwright) untuk membuktikan bahwa dunia akan lebih baik tanpa Islam. Suami Azima meninggal pada saat tragedi WTC 11 September 2001. Setelah kejadian tersebut Azima yang tinggal di Amerika dan sebelumnya berhijab, melepas hijabnya dan menggantinya dengan memakai wig. Rasa takut dan kehilangan rasa bangga terhadap agama yang dianutnya membuatnya melakukan hal itu. Apalagi ia mencurigai suaminya sebagai seorang teroris yang terlibat dalam misi bom wtc tersebut.

Konflik dua sejoli, Rangga dan Hanum disini terlalu dipaksakan. Rangga yang ditugaskan mewawancarai seorang pengusaha, berusaha mengejar jadwal pengusaha tersebut. Sementara Hanum harus mencari Azima. Dalam dua misi berbeda yang dikejar oleh waktu keduanya pun akhirnya bertengkar. Pertengkaran keduanya tersebut yang tersirat dari judul "bulan terbelah di langit amerika" iya, maksudnya kedua sejoli itu berantem melulu makanya seolah-olah hubungan mereka terbelah gitu.

Cerita cinta Stefan (Nino Fernandez) dan Jasmine (Hanna Al Rasyid) disini juga terlihat gantung. Kemesraan keduanya sebagai partner ataupun couple sama sekali gak dapet chemistry nya. Ditambah endingnya Jasmine kabur dari Stefan dan meninggalkan surat. Oh please, kalian itu dua orang dewasa yang tinggal di Amerika, dengan segala pemikiran liberal masih aja ninggalin surat dan pergi ninggalin pasangan gitu aja.

Yang sangat mengganggu adalah

adanya iklan sponsor dimana-mana. Kosmetik w****h mungkin menjadi sponsor yang terbesar. Semua pemeran wanita di film ini dipaksa menunjukkan adegan mereka lagi pakai kosmetik tersebut. Bahkan ada adegan seorang sekretaris yang dalam keadaan darurat masih sempat touch up pakai lipstick. Beneran deh, iklan sponsor di film ini melebihi iklan di film Habibie Ainun. Padahal iklan di film itu aja udah bikin aku males nonton.

Kelebihan di film ini adalah

gambar yang sangat memanjakan mata. Entah karena grading saat editing yang bagus, atau kamera yang digunakan emang bagus, yaa atau karena setting nya di Amerika. Film dengan setting luar negeri itu emang selalu menjual. Ya karena melihat kehidupan orang di luar negeri emang nyenengin. Makanya drama Korea disini laku keras. Karena syutingnya di Korea dan menunjukkan kehidupan orang Korea. Halah, malah bahas drama Korea lagi.

Balik lagi ke filmnya. Tadinya aku pikir film ini bakalan keren banget. Dari tagline nya Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?, ditambah lagi sutradara film ini Rizal Mantovani. Aku berharap film ini gak hanya menjual gambar tapi juga cerita yang bagus dengan nama besar sang sutradara. Sayangnya kenyataan emang kadang gak sesuai harapan, well seringnya gak sesuai harapan sih.

Aku tetap suka karakter Rangga sebagai suami yang penyabar menghadapi isterinya yang kadang kekanakan. Terlebih lagi karakter ini diperankan oleh Abimana.
Karakter Jasmine disini kurang kuat dan terlihat seperti hanya numpang lewat.

Ada banyak adegan yang dipaksakan, seperti saat Hanum meninggalkan ponselnya saat dia terjatuh. Keliatan banget supaya dia dan Rangga gak bisa saling menghubungi, adegan ini dibuat. Udah kayak sinetron aja deh.

Di Imdb rating film ini 6.4 yaa lumayan lah ya hampir menyentuh 7. Dibandingkan film pertama dan keduanya film ini kalah jauh. Karakter Azima (Rianti) disini kurang menonjol, bandingkan dengan karakter yang diperankah oleh Raline Shah di film 99 Cahaya di langit Eropa 1.
Cerita di 99 Cahaya di langit Eropa juga lebih bagus gak terkesan dipaksakan atau dragging.

Oke, jadi apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?
menurut aku sih dunia akan lebih baik tanpa pisang.

Comments