Review film:A Copy of My Mind (2015)


Film ini dibintangi oleh Chicco Jerikho dan Tara Basro. Pemilihan dua aktor ini menurutku udah pas banget. Chicco sebagai Alek  dan Tara Basro sebagai Sari yang cantik khas Indonesia banget. 

Akhirnya kemarin 15 Februari 2016 nonton juga film ini. Bioskop hari itu lumayan ramai, ada empat film yang lagi main, tiga film Indonesia dan satu film Hollywood. Kayaknya sih pada ramai mau nonton Deadpool atau London Love Story, karena kebanyakan yang di dalam bioskop anak-anak yang masih pakai seragam sekolah. Tapi, yang nonton film A Copy of My Mind juga nggak sedikit meskipun nggak sampai bikin satu theater penuh.

Review ini bukan dari pengamat film yang ahli, cuma dari seseorang yang sangat suka nonton. Dalam film ini juga mungkin ada spoiler, jadi buat yang nggak suka spoiler silahkan tutup halaman ini sebelum baca lebih jauh.

Dari awal Joko Anwar cuap-cuap di Twitternya tentang film ini sata sudah penasaran. Kayaknya filmnya bakal bagus apalagi dengan Joko Anwar sebagai sutradara. Meskipun sempat kecewa waktu nonton film Joko Anwar yang berjudul Kala(2007)


Awalnya saya mikir kalau ceritanya bakal tentang cinta-cintaan doang. 
Ternyata.... ya bener emang film ini tentang kisah cinta masyarakat pinggiran di Jakarta.
Biasanya kan kita nonton kisah cinta remaja dilengkapi dengan mobil mewah dan gadget terbaru. Film ini menyajikan realita kehidupan masyarakat pinggiran Jakarta yang berusaha bertahan hidup dan juga bersenang-senang dengan cara mereka sendiri.

Sari bekerja di salon kecantikan, memiliki cita-cita ingin punya home theater sendiri supaya bisa nonton film dengan enak. Sementara Alek adalah pembuat teks terjemahan bahasa Indonesia untuk film-film bajakan. Pertemuan mereka yang tidak disengaja disalah satu toko dvd bajakan membuat mereka akrab karena memiliki ketertarikan yang sama pada film. Sari sangat suka nonton film dan Alek punya banyak koleksi dvd bajakan bahkan sampai yang belum dijual. 

gambar : malesbanget.com
Perasaan cinta Sari dan Alek nggak diungkapkan dengan kata-kata tapi lewat adegan demi adegan yang menunjukkan bahwa mereka saling mencintai. Saya suka cara Joko Anwar menampilkan kisah cinta mereka, nggak banyak omong tapi melalui gambar. Memang begitu seharusnya film, nggak perlu banyak dialog tapi menunjukkan lewat gambar.

Tara dan Chicco sangat cocok menjadi sepasang kekasih. Bisa dibilang chemistry mereka berdua dapet banget. Kemesraan yang mereka tunjukan juga terasa alami tidak dipaksakan. 
Fokus film ini memang pada Sari dan Alek. Bagaimana Alek berusaha melindungi Sari, dan sebaliknya Sari membutuhkan Alek ditunjukkan dengan ekspresi dan gesture tubuh.

Sayangnya akhir film ini gantung. Joko Anwar mungkin memang sengaja memilih open ending dan membiarkan penonton memiliki ending dalam pikiran masing-masing.  

Konflik yang terjadi karena Sari menemukan barang bukti milik anggota DPR yang terkena kasus korupsi membawa ia dan Alek dalam bahaya. Sindiran tentang politik di Indonesia juga membuat film ini semakin terasa nyata. 

Pesan yang penting di film ini adalah jangan pernah ngutil deh apalagi sampai dua kali. Apa itu ngutil? ngutil itu nyolong. Karena sebenarnya kalo mau ditarik garis besar, film ini tentang nyolong, nyolong duit negara dan nyolong dvd yang diceritakan lewat kisah cinta Alek dan Sari.

Film ini wajib ditonton bukan karena adegan percintaan Tara Basro dan Chicco Jerikho. Bukan karena penonton bisa lihat Tara setengah telanjang. Film ini bukan hanya tentang seks. Realita masyarakat pinggiran yang nggak bisa apa-apa saat punya masalah adalah yang ingin ditunjukan di film ini.

Film ini saya nilai 7/10

Comments