Selamat ulang tahun Kota Semarang

Dua minggu yang lalu seperti kegiatan yang rutin dilakukan setiap bulannya. Blogger Semarang mengadakan kopi darat lagi. Kali ini bertempat di Kiliney Kopi Tiam, akhirnya kami berkumpul kembali.
Kopi darat kali ini agak berbeda karena mas +asmarie dexter  meminta kami sebagai blogger untuk berkontribusi dalam ulang tahun Kota Semarang. Sebagai blogger kontribusi apa lagi yang bisa kami lakukan selain dengan sebuah tulisan. Sebenarnya mas Ari meminta kami untuk menuliskan ide apa yang kami punya untuk ulang tahun Kota Semarang.

Saya ingin tulisan tentang Kota Semarang ini menjadi lebih personal. Maka mungkin saya akan lebih seperti bercerita dalam tulisan ini, daripada memberikan wacana atau gagasan.


Saya datang ke Kota ini pada tahun 2008. Kala itu saya turun dari pesawat dan cukup kaget melihat keadaan Bandar Udara Ahmad Yani. Sebelumnya saya tinggal di Palembang dan Bandar Udara Sultan Mahmud BadaruddinII sudah menjadi Bandara Internasional. Keterkejutan saya lebih karena Semarang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah. Sungguh, orang tua saya sangat ingin pindah ke Jawa, dan baru kali ini saya akhirnya tinggal di Pulau Jawa. 

Hari-hari pertama keluarga kami di Kota Semarang banyak dihabiskan dengan pergi ke tempat-tempat yang terkenal di Semarang seperti Masjid Agung Jawa Tengah dan Lawang Sewu. Kala itu Lawang Sewu masih terlihat seperti bangunan tua berhantu yang tidak terawat, sangat berbeda jauh dengan sekarang. 

Menelusuri jalanan Kota Lama hampir menjadi rutinitas di hari minggu. Perasaan takjub masih membayangi kami melihat bangunan-bangunan kuno yang menjadi saksi bisu sejarah tersebut, karena di Palembang jarang melihat yang seperti itu.

Delapan tahun yang lalu cinta saya tertinggal di Palembang bersama sahabat-sahabat saya. Tidak pernah terpikir akan tinggal lama di Semarang sampai akhirnya saat saya lulus SMA, ternyata UNDIP menjadi takdir saya selanjutnya yang harus saya jalani. Menambah masa tinggal saya di Semarang. 

Keluarga kami yang bukan orang Semarang,akhirnya memutuskan menetap saja di Kota ini setelah saya dipastikan masuk ke undip. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bagi saya bahwa Semarang menjadi Kota terakhir dalam perjalanan 'pindah-pindah' keluarga kami.

Akhirnya perasaan yang tertinggal jauh di Pulau Sumatera itu menghampiri saya. Saya mulai memiliki sahabat dekat di Semarang. Mulai merasa nyaman dengan lingkungan di Semarang. Awalnya sulit untuk berbicara dalam bahasa Jawa.

Semarang bukan hanya sekadar tempat tinggal bagi saya. Meskipun saya tidak terlahir di Kota ini, tetapi kota ini cukup memberi saya banyak kenangan yang membuat saya akhirnya menyukai Kota Semarang. Selain wisata kulinernya, Kota ini juga sangat nyaman untuk tempat tinggal. Sangat jarang saya rasakan adanya konflik yang terjadi di Kota ini. Adanya demo pun tidak sampai ricuh seperti di Jakarta atau Kota lainnya. Semarang sangat kondusif dan membuat keluarga saya merasa aman dan nyaman tinggal disini. 

Setelah delapan tahun saya rasa banyak yang sudah berubah dari Kota ini. Perubahan yang baik tentunya karena saya melihat kawasan Simpang Lima sekarang terlihat rapih dibandingkan dulu. 

Semarang menyimpan banyak sejarah, salah satunya adalah rumah peninggalan OeiTiong Ham di jalan Kyai Saleh (di sebelah kantor JNE) 
Kawasan Kota lama dan Lawang Sewu juga bagian dari sejarah yang belum tentu dapat ditemukan di Kota lain, dan saya sangat menyukai sejarah.  Peninggalan sejarah di Semarang saya lihat cukup menonjol dan bisa dijadikan sebagai sarana wisata. Harapan saya agar bangunan bersejarah di Semarang bis alebih dirawat dan jangan sampai dihancurkan karena merupakan cagar budaya. Contoh lainnya lagi sekolah saya dulu SMA Negeri 1. Bahkan SMA 1 pernah dijadikan tempat syuting beberapa acara. Begitu juga Lawang Sewu. 

Sepertinya cagar budaya yang dimiliki Semarang adalah daya tarik yang perlu ditonjolkan dari Kota ini. Jika saya seorang turis lokal yang datang saat ulang tahun Kota ini tentu rasa penasaran saaya adalah untuk melihat tempat-tempat atau pertunjukkan apa yang bisa saya nikmati. Seperti di Bali yang memiliki pertunjukkan tari kecak bagi para turis. Semarang night carnival bisa menjadi pesona sendiri untuk para turis melihat parade yang hanya bisa dilihat satu tahun sekali itu. Nah, untuk dapat mengakses pertunjukkan tersebut saya rasa perlu disediakan transportasi. Misalnya dari Simpang Lima rute dibuat menuju Kawasan Kota Lama, Lawang Sewu, Pecinan, dan kemudian berakhir di acara Semarang Night Carnival, jadi semacam City Tour.

Saya akan mengakhiri tulisan saya ini dengan harapan untuk Semarang.

Harapan saya diulang tahun Semarang yang ke-469 ini. Semoga Bandar Udara Ahmad Yani dan Stasiun Kereta Api Tawang dapat menjadi lebih bagus.

Comments

Post a Comment