Menuju Daratan

Photo by Math on Unsplash


Kalian sudah pernah berlayar? atau melakukan perjalanan dengan menggunakan angkutan kapal laut? kalau yang  sudah pernah bagaimana rasanya apakah menyenangkan? menakutkan? atau bagaimana?
Kita semua sedang berada di atas kapal menuju daratan. Jika kita tidak punya tujuan maka akan terombang ambing di tengah lautan. Jika sudah punya tujuan namun tidak terlalu yakin maka akan tersesat dalam perjalanan. 

Berlayar merefleksikan kehidupan. Daratan yang kita tuju tidaklah selalu sama. Perjalanan panjang di atas lautan yang membuat mabuk, dan ingin menyerah tentu dialami hampir semua awak kapal pada pertama kali perjalanan. Ada yang lambat laun terbiasa, ada juga yang masih saja mabuk laut dan mengeluh habis-habisan karena memuntahkan isi perutnya padahal ia baru saja makan. Lalu hal tersebut terjadi berkali-kali. Ia tidak pernah belajar untuk tidak mabuk, atau mungkin memang tidak bisa sembuh.

Dalam keadaan terombang-ambing di atas kapal ada yang yang ingin menyerah tidak kuat dengan tekanannya. Ingin loncat dari atas kapal sama seperti adegan Rose di film Titanic.
Setiap kapal membutuhkan nahkoda, awak, dan penumpang. Peran apa yang akan kita mainkan menjadi penting karena menentukan apa yang harus kita lakukan untuk membantu kapal sampai di daratan. Terkadang nahkoda dan awak kapal tidak sejalan. Kita bisa melakukan perjalanan sendirian dengan perahu atau kapal kita sendiri sehingga kita bisa menjadi nahkodanya. Namun, tidak semua ditakdirkan menjadi nahkoda. Ada yang memiliki ketakutan ketika harus sendirian, ada yang dapat bersinar di kegelapan walaupun seorang diri. 

Beberapa awak kapal berharap tidak perlu berlabuh ke daratan. Mereka menikmati apa yang sedang terjadi di lautan. Cinta dan persahabatan yang terjalin di atas kapal. Mungkin juga hal yang mengasyikkan tersebut dapat berakhir sesampainya mereka tiba di daratan. atau mungkin juga mereka hanya bingung pada apa yang harus mereka lakukan sesampainya di daratan. Seperti "oke kita sudah sampai daratan lalu sekarang apa?"

Pernahkah kalian memikirkan apa yang akan kalian lakukan ketika sudah sampai di daratan? atau mungkin kalian berpikir "yang penting sampai saja dulu ke daratan"
Banyak yang bersyukur karena berada di atas kapal. Sebagian orang harus mendayung sekoci atau perahu kecil menuju daratan. Terkadang perahu mereka mengalami kebocoran. Ada yang belum sampai daratan sudah tenggelam. Yang berada di sekoci tetap bersyukur karena mereka tidak harus berenang. Membayangkan dinginnya air laut saja sudah membuat ngilu. Beberapa orang memang memiliki ketahanan fisik yang tinggi untuk berenang menuju daratan. Belum lagi ketabahan hati mereka menghadapi hewan laut yang tidak bersahabat. Kadang mereka hanya lewat saja, tapi kadang mereka lapar dan menerkam apa yang bisa dimakan.

Berada di atas kapal mewah juga tidak menjamin bahwa perjalanan menuju daratan akan lancar. Tapi yang terpenting selalu memiliki tujuan. Itu yang membuat nahkoda tetap terjaga dan layar tetap berkembang. Kadang kesepian menyergap apalagi kalau kita adalah nahkoda dalam sekoci kita sendiri. Sekoci kecil memang tidak bisa dibanggakan dan malah membuat depresi. Terkadang mereka terlalu nekat dan memaksakan diri. Tapi apalagi yang harus dipertaruhkan selain memaksakan diri.

Memaksakan diri untuk tetap terbangun di pagi hari dan mendayung sekoci menuju daratan meskipun merasa kesepian. Berada di kapal mewah tanpa berbuat apa-apa hanya mengandalkan insting sang nahkoda untuk membawa ia ke daratan bukan berartti di dalam keramaian ia tidak kesepian. Mungkin saja kilauan kemewahan itu terlihat memenuhi kapal tapi tidak hatinya. Kesepian adalah perasaan misterius yang bisa datang pada siapa saja dengan kondisi apa saja. Kita hanya berusaha mengabaikannya tapi ia terus mengganggu.

Semoga gunung es di depan kita tidak segera mencair seperti di film Titanic. Selamat berlayar dan mengarungi lautan. Kawan

Comments

Hosting Unlimited Indonesia