Specialty Coffee, hanya untuk yang mengerti

Photo by nousnou iwasaki on Unsplash

Jangankan Kopi Specialty, saya yakin masih banyak orang yang tidak tahu apa kopi single origin. Kamu mungkin pernah datang ke coffee shop dan melihat deratan canister yang berisi biji kopi dengan label yang tertera dari bermacam-macam tempat, daerah, bahkan negara. Mereka adalah kopi-kopi single origin, atau berasal dari satu daerah atau tempat. Metode seduh manual adalah yang paling tepat untuk mengolah kopi dari berbagai daerah ini. Kenapa? karena kopi single origin biasanya memiliki rasa yang lebih kaya dibandingkan kopi house blend yang diperuntukan untuk kebutuhan membuat kopi susu (caffe latte, capucinno, etc)

Kopi single origin biasanya disangrai (roasting) dengan profile light atau light - medium, mentok-mentok di medium. Karena jika terlalu dark akan mengurangi rasa dalam kopi dan yang tertinggal hanya rasa gosong pahit. 

Rasa Gosong Pahit

Hitam, pekat, pahit, adalah hal-hal yang mengena di ingatan kita ketika berbicara tentang kopi. Beberapa orang yang saya temui pasti beranggapan bahwa kopi yang enak adalah yang kental dan pahit. Bukan salah bunda mengandung jika orang berpikir demikian selama bertahun-tahun. Sudah sejak lama kopi yang beredar dan dikonsumsi oleh banyak orang adalah kopi yang cita rasanya seperti itu. Sama seperti kita menyebut motor dengan sebutan "Honda" dan angkutan umum dengan "Daihatsu" meskipun sebenarnya itu adalah nama merk dari motor dan angkutan umum, namun itulah branding yang tidak sengaja dilakukan sehingga tercipta sebuah citra yang membekas di ingatan.

Mengapa selama bertahun-tahun kopi hitam, pekat, dan pahit?

Entah siapa yang memulai trend kopi dengan profile roasting gelap dan gosong ini. Apakah bermula di Italia dengan Italian roast? 
Saya rasa ada alasan mengapa roastery me-roast kopi mereka sampai pada level ini. Beberapa kemungkinan tersebut bisa jadi karena kopi yang mereka dapatkan tidak sama dari berbagai daerah. Sebut saja perusahaan besar yang menjual kopi ke seluruh dunia. Perusahaan ini tentu menginginkan konsistensi rasa dari kopi mereka, jika roastingan kopi mereka dibuat light maka kekurangan dan kelebihan biji kopi yang heterogen tadi akan nampak muncul sehingga rasa dari kopi yang mereka jual menjadi tidak konsisten.
Bisa juga karena stok kopi di gudang yang menumpuk sehingga kualitas kopi menurun akibat tempat yang lembab, kopi jamuran dsb, sehingga roastery berinisiatif untuk membuat kopi dengan profile dark roast agar menghilangkan jamur dan kopi tetap bisa dijual dengan rasa yang sering kita temukan :pahit. 

Di Indonesia sendiri kemungkinan tradisi pahit hitam pekat dibawa oleh Belanda, karena kopi berkualitas baik mereka ekspor ke negara mereka atau ke luar negeri. Sehingga yang tersisa adalah kopi berkualitas rendah yang jika diroast dengan profile light atau light to medium akan menonjolkan kekurangan rasa sehingga kopi yang seperti ini tidak dapat dikonsumsi.
Kopi dengan profile roastingan gosong tentu saja akan menghasilkan rasa yang pahit (karena gosong) Mungkin inilah yang membuat stigma kopi hitam, pekat, pahit bertahan selama bertahun-tahun sampai munculah gelombang kopi ketiga.


Gelombang Kopi Ke-3

Konsumsi kopi dengan kualitas rendah dapat kita kategorikan sebagai gelombang kopi pertama. Beberapa alasannya mungkin karena saat itu penemuan akan biji kopi berkarakter tidak semudah sekarang. Untuk mendapatkan biji kopi saja harus menjadi pencuri (kisah tiga pencuri kopi) Sehingga minimnya pengetahuan mengenai penanaman dan pengolahan biji kopi yang beredar kala itu menjadi salah satu alasan biji kopi berkualitas rendah.

Buruknya kualitas kopi pada gelombang pertama mendesak keinginan orang-orang untuk mengetahui kopi yang sesungguhnya. Inilah awal dari gelombang kedua. Biji kopi sudah mulai diperhatikan cara penanamannya sampai dengan proses penjemuran dan roasting. Gelombang kedua ini menghasilkan minuman yang kita kenal dengan nama espresso, caffe latte, capucinni, etc. Gelombang kopi kedua ini pula yang membuat sebuah trend nongkrong di coffee shop menjadi gaya hidup.

Semakin lama orang-orang mulai jenuh dengan kopi yang begitu-gitu saja sehingga mereka ingin tahu lebih dalam lagi mengenai biji kopi.
Istilah Gelombang kopi ketiga pertama kali dikemukakan oleh Thrish Rothgeb pada sebuah artikel di Wrecking Ball Coffee Roasters pada 2002. Pada artikel yang dipublikasikan oleh Roaster Guild, The Flamekeeper, Rothgeb mendefinisikan ada tiga pergerakan di dalam dunia kopi dan menyebutnya dengan istilah “gelombang” atau “waves”. Melalui pengertian tersebut, “third wave” menjadi istilah yang popular hingga sekarang (sejarah first second and-third-wave-coffee)

Dalam gelombang kopi ketiga ini atau pada masa sekarang seringkali kita mendengar orang menyebutkan kopi single origin, atau specialty coffee. Specialty coffee sendiri adalah biji kopi yang memiliki cupping score di atas 80. Coffee shop specialty berarti mereka adalah kedai yang memperhatikan biji kopi dari proses penanaman, panen, proses penjemuran, roasting, sampai seduh dan tersaji di gelas atau cangkir yang kamu minum. Specialty coffee mementingkan kualitas biji kopi yang mereka jual. Kedai Specialty Coffee tentu saja tidak menyajikan kopi instan atau bubuk tetapi yang mereka jual masih dalam bentuk biji kopi yang diroasting. Kenapa? karena customer harus melihat kualitas biji kopi seperti apa yang akan mereka minum. Apa yang kamu lihat itu yang kamu dapatkan.

Tidak banyak orang megerti mengapa mereka harus meminum kopi yang masih segar. Kafein di dalam kopi dapat diekstraksi. Kafein bisa terdapat juga di dalam obat. Sehingga kafein sebenarnya bisa didapatkan dari minuman dengan ekstrak kafein.Tetapi ketika kita meminum kopi yang diharapkan adalah bukan mendapat asupan kafein namun menemui rasa-rasa yang menyenangkan di lidah. Begitulah sudut pandang dari para penikmat kopi di gelombang ketiga ini. Mereka berusaha mencari tahu rahasia dibalik rasa kopi yang sempurna dengan memakai berbagai alat. Dari mulai suhu sampai Ph air pun diperhatikan untuk mendapatkan rasa kopi yang sempurna.
Hal inilah yang tidak masuk di akal para penikmat kopi asupan kafein. Bagi mereka kopi adalah sekadar minuman penahan rasa kantuk agar mereka dapat tetap terjaga dalam mengerjakan deadline di depan mata. 

Kopi Mahal

Specialty Coffee adalah kopi mewah yang harganya mahal. Untuk menikmati secangkir kopi dengan cupping score yang tinggi kamu harus merogoh kocek sampai 100.000. Bagi para penikmat kopi ini bukan masalah. Banyak orang yang demi hobinya menghamburkan uang yang bagi orang lain hal tersebut tidak masuk akal. Kopi mahal ini hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang mengerti. Paham betul mengapa kopi yang mereka minum haruslah mahal. Bagi orang-orang yang hanya meminum kopi demi asupan kafein hal ini tidak berlaku sama sekali. Ngopi di burjo lebih baik selama itu tidak membuat kantong bolong. Lain halnya dengan penikmat kopi demi konten instagram. Mereka boleh saja memesan kopi mahal di coffee shop mewah namun tanpa memiliki ketertarikan tersendiri pada kopi yang mereka minum. Mereka menjadikan nongkrong di coffee shop sebagai gaya hidup. 


Saya merasa bahwa niat baik mengembangkan kopi yang sebenarnya adalah untuk menguntungkan para petani dan juga untuk kesehatan peminumnya sendiri. Meminum kopi tanpa gula sebenarnya bukanlah masalah. Kadar kafein yang terdapat dalam kopi arabica dengan profile roasting light atau light to medium yang diseduh manual menggunakan metode drip filtration (pour over, V60) tidak terlalu tinggi. Tapi bagaimana dengan kopi yang kita tidak tahu asal usulnya, tmenggunakan pemanis buatan, dan berbahan pengawet? kita tidak tahu pasti komposisi yang terkandung di dalamnya sehingga banyak orang yang mengeluhkan perutnya sakit ketika meminum kopi. Sebenarnya yang salah kopi atau minuman yang kita tidak tahu asal usulnya ini?
Hal ini lah yang ingin diubah oleh pejuang kopi gelombang kopi ketiga. Kopi itu bisa dinikmati siapa saja dengan cara seduh yang benar juga tidak akan membuat orang sakit.

Kembali lagi bahwa kitalah yang memutuskan apa yang akan kita masukkan ke dalam tubuh kita. Untuk kesehatan, gaya hidup atau untuk kenikmatan semua adalah tanggung jawab kita sendiri.

Sudah terlalu tua untuk Officer Development Program



Saya membuka instagram dan mulai menelusuri akun pemberi informasi mengenai lowongan kerja. Sejumlah Bank ternama Indonesia sedang mencari fresh graduate untuk program penerimaan karyawan milik mereka yang disebut ODP (Officer Development Program). Sebuah notifikasi LinkedIn masuk, hanya pemberitahuan tentang teman baru di akun saya. Saya kemudian scrolling-scrolling LinkedIn dan membuka profile teman lama yang sekarang berkarir di Bank dan dulu masuk melalui ODP. Teringat kembali dua tahun lalu saat saya akhirnya lulus kuliah.

Sudah sewajarnya sebagai fresh graduate menjadi job seeker. Pekerjaan idaman para fresh graduate biasanya adalah banker atau bekerja di Bank atau BUMN sejenis. Kenapa? Supaya bisa mapan di usia muda. Lagi pula ada gengsi tersendiri untuk menjawab pertanyaan "kamu kerja di mana?" di bank...

Berkali-kali sejak saya lulus kuliah pada tahun 2016 mencoba peruntungan menjadi banker. Apes, gak pernah nyantol. Officer development program adalah program penerimaan yang biasanya ada itu gak juga menerima saya sebagai kandidat. Sempat dapat email kalau keterima, eh tapi gak taunya email itu penipuan. Sedih.

Sedihnya gak berlama-lama karena saya juga sebenernya gak pengin pengin amat kerja di Bank. Cuman ya itu tadi kebutuhan ekonomi dan supaya orang tua bangga aja ketika nyebut anaknya kerja di mana.

Sampai sekarang masih ada aja lowongan kerja di Bank yang terbuka. Tapi ya gak bisa daftar juga karena kepentok sama umur. Lah wong sekarang umur sudah 27 sedangkan maksimal umur yang mereka terima 24/25 tahun. Harapan kerja di bank pupus lah sudah.

Padahal dulu kuliah jurusan ekonomi kalau ditanya pas lagi kumpul di hari raya kan gak jauh dari seputar gimana kuliah dan nanti mau kerja apa. Seringnya saya jawab "yaa paling di Bank om, tante"
Eh ternyata selain lulus lama juga harapan buat bikin bangga orang tua dengan kerja di bank ini sirna juga.

Kadang-kadang ngerasa minder juga kalau ketemu teman-teman kuliah dulu dan mereka sekarang udah di level manager sedangkan saya masih di level staff yang ngedit caption di instagram. Saya gak bilang itu pekerjaan yang lebih rendah ya. Tapi ya cobalah melihat dari sudut pandang mainstream. Umur saya sekarang harusnya saya sudah menikah, punya anak, atau bekerja di level manager. Harus jauh lebih mapan dan syukur syukur udah bisa nyicil rumah atau mobil.

Tapi kehidupan saya jauh dari bayangan mainstream kemapanan tadi. Saya sih yakin masih banyak yang ngalamin hal serupa gak cuma saya doang yang begini. Banyak di usia 27 malah baru lulus. Iya. Lulus S2 ya tapi :p

Saya nulis gini tuh bukan mau ngeluh. Cuma mau ngasih sudut pandang kalau pekerjaan memang bukan cuma di bank. Tapi gak bohong sebagai manusia saya juga pengin mapan. Meskipun anti kemapanan itu keren. Anak muda menjadi mapan di usia muda itu juga keren. Ya kadang saya cari cari pembenaran aja sih biar tetep besar hatinya dan gak putus asa.


Semangat ya. Kamu yang sedang berjuang untuk kehidupan yang lebih mapan.




Stay hungry

Stay foolish




Kalau kata Steve Jobs sih

Branding, penting atau nggak?


Pernah denger atau baca kata branding atau brand awareness nggak? kayak misalkan ada temen kamu yang ngomong "personal branding di social media itu penting lho!" 

Sebenarnya apa sih branding itu? 

Ketika sebuah produk ingin dikenal maka ia akan melakukan branding. Branding adalah sebuah upaya yang dilakukan agar produk yang kita punya dapat melekat di pikiran konsumen. Misalkan saja ketika saya menyebutkan kata Apple, apa yang kamu pikirkan ketika membaca atau mendengar nama tersebut? apakah akan merujuk kepada buah apel? atau Apple perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs?

Tentunya sebagai pemilik brand kita memiliki keinginan, ingin dikenal seperti apa brand yang kita punya? Saya contohkan lagi Apple. Steve Jobs di dalam film  Steve Jobs (2015) bilang kalau ia ingin supaya pengguna Apple memiliki kontrol penuh terhadap produk yang digunakan. User Interface yang bersih, dan sederhana. Pengguna Apple nggak perlu bingung dengan pengaturan yang njlimet. Begitu produk yang dibelinya menyala, ia langsung dapat menggunakan aplikasi tanpa ribet. 

Kesederhanaan tampilan, kemudahan penggunaan fitur dan aplikasi di iOS ataupun MacOs tidak lantas menjadikan Apple brand murahan. Justru hal itu membuatnya menjadi berkelas dan mahal. Apple membuat pengguna merasa eksklusif. Perasaan atau user experience tersebutlah yang juga membuat produk Apple menjadi mahal. Namun, membangun trust dari pengguna agar mau membayar untuk sebuah produk Apple bukanlah hal yang mudah.

Branding yang dilakukan oleh Apple bertahun-tahunlah yang membuatnya mencapai semua itu dan bukan tanpa kegagalan. Banyak produk Apple yang gagal dan membuat perusahaan rugi. Tapi Apple konsisten membuat produk yang sesuai dengan visi misi mereka di awal. Banyak perusahaan yang mencoba idealis namun eksekusinya gagal karena kurang inovasi atau ada juga yang berusaha mengikuti trend tapi malah kegerus oleh brand lainnya karena kurangnya karakter.

Proses branding memerlukan banyak aspek. Dari mulai logo, visi misi perusahaan, tagline dengan kata lain sebuah brand identity yang kuat diperlukan. Brand identity adalah elemen kasat mata dari sebuah brand yang menyampaikan karakter, komitmen dan nilai-nilai produk sebuah perusahaan agar dipahami oleh konsumen melalui aspek warna, simbol atau tipologi. (Mengapa Brand Identity Sebuah Perusahaan Sangatlah Penting)

Jika sebuah perusahaan, produk perlu melakukan branding begitu juga dengan manusia. Personal branding perlu kamu lakukan jika kamu ingin mencapai sesuatu. Misalkan kamu ingin dikenal sebagai blogger lifestyle karena sering menulis content tentang gaya hidup dan berharap ada klien yang meng-endorse atau kamu adalah seorang graphic designer yang ingin dikenal memiliki design yang unik dan berbeda tentu saja yang harus kamu tampilkan di portfolio adalah design-designmu yang bagus. Personal branding kadang disebut juga pencitraan. Seperti apa kita ingin dikenal.

Pencitraan adalah sebuah upaya. Yaa kalau bisa konsisten pencitraan melulu nggak apa-apa juga. Tapi menjadi jujur ketika mem-branding diri sendiri juga nggak ada salahnya. Misalkan Reza Arap (youtuber) mungkin ia memang ingin dikenal sebagai gammers ganteng idaman yang nggak suka pencitraan sok baik. Yaa karakter dia memang seperti itu dan personal branding yang ia bangun juga seperti itu.

Jadi menurut kamu branding itu penting nggak? kalau kamu ingin dikenal sebagai apa?

Saya nggak pernah bercita-cita menjadi Social Media Specialist


Barangkali ada sepuluh kali lebih cita-cita saya berubah.

Dulu banget waktu pindah dari Lampung ke Batam dan sementara tinggal di hotel. Saya merasa iri dengan orang-orang yang bekerja di hotel. Berpikir "kok enak sih" pikiran anak umur 5 tahun, dikira itu pada tinggal di hotel juga kali. Padahal mah kerja. Dari situ tiap kali ditanya cita-cita saya apa. Saya bilang pengin punya hotel. Wah jumawa sekali emang punya hotel kayak beli mainan, yaa namanya juga anak kecil.

Beranjak agak gede dikit masuk SD mulai deh keracunan dengan ide cita-cita jadi dokter lah, arsitek lah, dan cita-cita lainnya yang ditanamkan oleh lagu “Susan..Susan.. kalau gede mau jadi apa?”, dan peran guru di sekolah tentunya.

SD kelas 6. Seorang guru yang benar-benar saya kagumi dan jadi idola saya sampai sekarang. Bu Ida, bilang "sebaiknya kamu masuk IKJ" dari situ harapan saya pupuk. Suatu hari saya bakalan bikin film. Nulis skenario atau jadi sutradara.

SMP cita-cita saya berubah lagi. Masih kepengin sekolah film. Tapi juga mempertimbangkan "kayaknya enak ya jadi pengacara" waktu itu lagi banyak artis cerai dan pengacara artis muncul di tv.
2004 jadi tahun di mana pelajaran ppkn/ budi pekerti berubah menjadi kewarganegaraan dan anak anak di sekolah mulai belajar tentang pasal pasal. Begitulah awal ketertarikan saya dengan hukum. Masa-masa SMP adalah saat di mana saya merasa mendapat dorongan untuk menyukai politik, hukum dan sebagainya. Saya menonton film GIE, membaca AKU-nya Sumandjaya dan sok-sok-an belajar menyukai Chairil, sastra, puisi dan merasa tidak ingin ikut arus alias pengin jadi beda sendiri.

Terjerumus salah jurusan saat kuliah bukan sepenuhnya keterpaksaan "daripada gak kuliah"
Saya memang punya keinginan untuk menjajaki bidang ekonomi karena melihat Ibu Sri Mulyani. Mana saya tahu ternyata tempe kalau di jurusan itu banyak matematikanya. Padahal dari dulu kesulitan dengan pelajaran matematika, fisika, kima sampai harus les private supaya bisa naik kelas dan lulus sekolah.

Menyadari bahwa saya suka banget musik dan dengerin radio dari SD. Ada semburat keinginan jadi penyiar. Waktu di Palembang pas SMP saat itu paling suka dengerin Oz Radio dan Momea.
Tahun 2012 semester 5 waktu itu. Nyobalah daftar ke radio di Semarang. Gak kesaring tuh waktu itu. Yaudah, emang bukan di radio kali ya.

Nggak lulus - lulus karena skripsi gak selesai selesai akhirnya bikin saya mikir "harus ada kegiatan lain nih selain meratapi skripsi yang gak kelar kelar dan ditinggal teman-teman"
Pas lagi buka Facebook, masuklah sebuah chat dari seorang teman.
Sebuah tawaran dari Mas Tebeh (saat itu penyiarnya RRI Pro2) buat ngisi jadi guest announcer di acara K-popnya Pro2. Langsung saya terima dong tawarannya secara udah ngebet pengin siaran tapi ditolak mulu di radio. Setelah siaran hampir setahun walaupun cuman seminggu sekali. Ada lowongan penyiar di SSFM. Saya daftar dan keterima!. Posisi saat itu masih belom lulus kuliah.

Saat jadi penyiar saya sadar. Sebenarnya selama ini saya cuma pengin ngomong dan ngomong. Pengin jadi pengacara karena mereka sering tampil di tv dan ngomong pendapat mereka. Terinspirasi sama Bu Sri Mulyani, yaa mungkin karena beliau perempuan dan saat itu sosok perempuan pintar yang kerap tampil di TV.

Jadi penyiar selama setahun menyenangkan. Siaran itu menyenangkan ketika menyenangkan. Maksudnya, pasti ada moment ketika saya down juga, nggak mood siaran. Dalam mengerjakan hal yang kita suka juga pasti ada jenuhnya. Saya mulai jenuh dengan rutinitas yang gitu-gitu aja.

Menemukan kopi sebagai pelarian

Mungkin ya. Saya cuma kebawa arus trend. Mungkin sebenarnya saya gak suka suka banget sama kopi. Tapi dipaksakan untuk suka karena lagi trend. Baik, saya bukan orang yang gampang menyukai sesuatu yang gak saya suka. Jadi kalau ada pikiran seperti itu maka hal itu salah. Memang kopi sedang trend dan saya suka kopi.

Keinginan saya untuk membikin kedai kopi sederhana. Saya ingin menyeduh kopi saya sendiri tanpa harus pergi ke coffee shop. Saya pengin ketika diajak main saya bisa bilang "udah ke kedai ku aja" jadi saya gak perlu pergi-pergi. Pada dasarnya saya anaknya mageran sih.

Saya gak tau apakah cita-cita ini bisa bertahan. Saya emang orangnya mudah bosan. Tapi semoga impian saya yang satu ini bisa terwujud suatu hari nanti. Keinginan saya bisa bikin Kedai Kopi yang di sana juga ada radionya, jadi pengunjung bisa request lagu atau dengerin penyiarnya curhat. Penyiarnya kalo bisa yaa penyeduh di kedai itu juga. Saya juga masih punya keinginan untuk belajar tentang film walaupun yang satu ini nggak semenggebu hasrat saya untuk belajar kopi.

Kalau ada yang bertanya kenapa saya semenggebu-gebu itu ingin mempelajari kopi sampai ke akarnya? Karena dunia ini terus berubah dan yang buka kedai kopi sekarang buaaanyakkk banget. Kalau saya nggak punya ilmu dasar tentang kopi maka saya akan jadi rata-rata saja. Belum lagi kalau nanti teknologi artificial intelligence (kecerdasan buatan) semakin berkembang. Peran manusia dalam membuat sesuatu pasti semakin tergantikan dan yang tersisa dari manusia adalah ilmu yang ia miliki.

Saya nggak pernah bercita-cita menjadi Social Media Specialist

Pertemuan yang sudah digariskan Allah. Dalam sebuah acara blogger saat itu saya dipertemukan dengan Septi. Kami yang awalnya nggak dekat-boro-boro dekat kenal aja nggak waktu itu. Di acara tersebut menjadi teman ngobrol yang cocok. Septi menawarkan saya sebuah pekerjaan “ngurusin social media”

Sumpah saya awalnya nggak tau Digital Marketing, atau Social Media Specialist itu ngapain. Saua berani melamar karena saat itu butuh, dan mikirnya “marketing kan pernah belajar pas kuliah. Kalo social media, yaa selama ini juga mainan social media”

Pekerjaan inilah yang kemudian sekarang saya geluti. Ketika melamar pekerjaan, atau berkenalan dengan orang baru, saya akan memperkenalkan diri sebagai Kinanti - Social Media Specialist. Begitulah branding yang saya bangun sekarang. Sepertinya justru yang nggak kepikiran sama sekali dari awal malah yang membawa kapal saya berlayar sejauh ini (yaa belum jauh-jauh amat sih) saya juga masih harus banyak belajar tentang internet, digital marketing, dan social media. Bicara begini bukan berarti saya sudah expert tentang social media ya.

Capek

Saat menjadi penyiar sebelumnya saya sudah mengalami yang namanya pagi siaran-siang kerja di kantor- malam baru balik - paginya siaran lagi.
Gak capek? ya capeklah! saya berkali-kali mesti minum vitamin atau obat sakit kepala karena kecapekan. Tapi gimana dong, yang satu butuh yang satu lagi suka. Antara butuh sama suka ini susah dipisahkan. Sekarang juga gitu. Pagi ngantor - malam ngebar. Capek ya capek, sering pengin nyerah aja nggak tau nih kapan bakal tahan ya. Tapi semoga bisa bertahan cukup lama sampai di titik equilibrium

Semoga kalian yang sedang dalam pencarian, atau melakukan pekerjaan tidak berputus asa ya. Memang berat tapi harus tetap dijalanin. Hari ini bakal kayak susah banget, tapi selalu ada jawaban. Saya ngomong gini kayak sampah banget mungkin kalau kalian baca. Tapi saya juga pernah di masa-masa down banget waktu ngerjain skripsi. Sampe waktu itu ketemu dosen pembimbing dan curhat “saya nggak tahu lagi Pak, skripsi ini mesti gimana”

Bohong kalau saya selalu bersemangat. Saya juga pernah putus asa, rasanya stuck di pekerjaan yang gitu-gitu aja sementara teman-teman udah berkarir dan punya kehidupan yang selangkah di depan juga bikin stress. Tapi begitulah kehidupan. Saya akan bertemu dengan orang-orang yang lebih, yang kurang, yang membuat saya cemburu, yang membuat saya merasa dicintai, membuat saya merasa dibutuhkan. Akan selalu ada nada sumbang membandingkan, atau merasa bahwa selalu ada tuntutan untuk lebih dan lebih lagi dari apa yang sekarang dicapai. Saya bukan yang paling tahu tentang kehidupan. Sedikit yang bisa saya bagi dari pengalaman dan apa yang saya rasakan. Semoga bisa tercerahkan.

Semoga kita selalu dikuatkan ya!

Semoga

semoga kita semua bisa melalui masa itu ya

semoga berhasil dengan mimpi dan apapun hal baik yang kamu lakukan saat ini

semoga saya dan kamu, kita yang sering merasa cemas dan takut bisa mulai perlahan melepaskan rasa cemas dan takut yang berlebihan itu.






















Footnote:
Saya juga pernah bercita-cita menjadi penyanyi. Kepengin ikut Indonesian Idol. Pengin jadi penulis  bikin setidaknya satu buku. Kepengin jadi dosen aja kalau nggak mendapatkan pekerjaan saat itu daaaan keinginan lainnya yang sepertinya lebih dari sepuluh kalau dihitung :D