Saya nggak pernah bercita-cita menjadi Social Media Specialist


Barangkali ada sepuluh kali lebih cita-cita saya berubah.

Dulu banget waktu pindah dari Lampung ke Batam dan sementara tinggal di hotel. Saya merasa iri dengan orang-orang yang bekerja di hotel. Berpikir "kok enak sih" pikiran anak umur 5 tahun, dikira itu pada tinggal di hotel juga kali. Padahal mah kerja. Dari situ tiap kali ditanya cita-cita saya apa. Saya bilang pengin punya hotel. Wah jumawa sekali emang punya hotel kayak beli mainan, yaa namanya juga anak kecil.

Beranjak agak gede dikit masuk SD mulai deh keracunan dengan ide cita-cita jadi dokter lah, arsitek lah, dan cita-cita lainnya yang ditanamkan oleh lagu “Susan..Susan.. kalau gede mau jadi apa?”, dan peran guru di sekolah tentunya.

SD kelas 6. Seorang guru yang benar-benar saya kagumi dan jadi idola saya sampai sekarang. Bu Ida, bilang "sebaiknya kamu masuk IKJ" dari situ harapan saya pupuk. Suatu hari saya bakalan bikin film. Nulis skenario atau jadi sutradara.

SMP cita-cita saya berubah lagi. Masih kepengin sekolah film. Tapi juga mempertimbangkan "kayaknya enak ya jadi pengacara" waktu itu lagi banyak artis cerai dan pengacara artis muncul di tv.
2004 jadi tahun di mana pelajaran ppkn/ budi pekerti berubah menjadi kewarganegaraan dan anak anak di sekolah mulai belajar tentang pasal pasal. Begitulah awal ketertarikan saya dengan hukum. Masa-masa SMP adalah saat di mana saya merasa mendapat dorongan untuk menyukai politik, hukum dan sebagainya. Saya menonton film GIE, membaca AKU-nya Sumandjaya dan sok-sok-an belajar menyukai Chairil, sastra, puisi dan merasa tidak ingin ikut arus alias pengin jadi beda sendiri.

Terjerumus salah jurusan saat kuliah bukan sepenuhnya keterpaksaan "daripada gak kuliah"
Saya memang punya keinginan untuk menjajaki bidang ekonomi karena melihat Ibu Sri Mulyani. Mana saya tahu ternyata tempe kalau di jurusan itu banyak matematikanya. Padahal dari dulu kesulitan dengan pelajaran matematika, fisika, kima sampai harus les private supaya bisa naik kelas dan lulus sekolah.

Menyadari bahwa saya suka banget musik dan dengerin radio dari SD. Ada semburat keinginan jadi penyiar. Waktu di Palembang pas SMP saat itu paling suka dengerin Oz Radio dan Momea.
Tahun 2012 semester 5 waktu itu. Nyobalah daftar ke radio di Semarang. Gak kesaring tuh waktu itu. Yaudah, emang bukan di radio kali ya.

Nggak lulus - lulus karena skripsi gak selesai selesai akhirnya bikin saya mikir "harus ada kegiatan lain nih selain meratapi skripsi yang gak kelar kelar dan ditinggal teman-teman"
Pas lagi buka Facebook, masuklah sebuah chat dari seorang teman.
Sebuah tawaran dari Mas Tebeh (saat itu penyiarnya RRI Pro2) buat ngisi jadi guest announcer di acara K-popnya Pro2. Langsung saya terima dong tawarannya secara udah ngebet pengin siaran tapi ditolak mulu di radio. Setelah siaran hampir setahun walaupun cuman seminggu sekali. Ada lowongan penyiar di SSFM. Saya daftar dan keterima!. Posisi saat itu masih belom lulus kuliah.

Saat jadi penyiar saya sadar. Sebenarnya selama ini saya cuma pengin ngomong dan ngomong. Pengin jadi pengacara karena mereka sering tampil di tv dan ngomong pendapat mereka. Terinspirasi sama Bu Sri Mulyani, yaa mungkin karena beliau perempuan dan saat itu sosok perempuan pintar yang kerap tampil di TV.

Jadi penyiar selama setahun menyenangkan. Siaran itu menyenangkan ketika menyenangkan. Maksudnya, pasti ada moment ketika saya down juga, nggak mood siaran. Dalam mengerjakan hal yang kita suka juga pasti ada jenuhnya. Saya mulai jenuh dengan rutinitas yang gitu-gitu aja.

Menemukan kopi sebagai pelarian

Mungkin ya. Saya cuma kebawa arus trend. Mungkin sebenarnya saya gak suka suka banget sama kopi. Tapi dipaksakan untuk suka karena lagi trend. Baik, saya bukan orang yang gampang menyukai sesuatu yang gak saya suka. Jadi kalau ada pikiran seperti itu maka hal itu salah. Memang kopi sedang trend dan saya suka kopi.

Keinginan saya untuk membikin kedai kopi sederhana. Saya ingin menyeduh kopi saya sendiri tanpa harus pergi ke coffee shop. Saya pengin ketika diajak main saya bisa bilang "udah ke kedai ku aja" jadi saya gak perlu pergi-pergi. Pada dasarnya saya anaknya mageran sih.

Saya gak tau apakah cita-cita ini bisa bertahan. Saya emang orangnya mudah bosan. Tapi semoga impian saya yang satu ini bisa terwujud suatu hari nanti. Keinginan saya bisa bikin Kedai Kopi yang di sana juga ada radionya, jadi pengunjung bisa request lagu atau dengerin penyiarnya curhat. Penyiarnya kalo bisa yaa penyeduh di kedai itu juga. Saya juga masih punya keinginan untuk belajar tentang film walaupun yang satu ini nggak semenggebu hasrat saya untuk belajar kopi.

Kalau ada yang bertanya kenapa saya semenggebu-gebu itu ingin mempelajari kopi sampai ke akarnya? Karena dunia ini terus berubah dan yang buka kedai kopi sekarang buaaanyakkk banget. Kalau saya nggak punya ilmu dasar tentang kopi maka saya akan jadi rata-rata saja. Belum lagi kalau nanti teknologi artificial intelligence (kecerdasan buatan) semakin berkembang. Peran manusia dalam membuat sesuatu pasti semakin tergantikan dan yang tersisa dari manusia adalah ilmu yang ia miliki.

Saya nggak pernah bercita-cita menjadi Social Media Specialist

Pertemuan yang sudah digariskan Allah. Dalam sebuah acara blogger saat itu saya dipertemukan dengan Septi. Kami yang awalnya nggak dekat-boro-boro dekat kenal aja nggak waktu itu. Di acara tersebut menjadi teman ngobrol yang cocok. Septi menawarkan saya sebuah pekerjaan “ngurusin social media”

Sumpah saya awalnya nggak tau Digital Marketing, atau Social Media Specialist itu ngapain. Saua berani melamar karena saat itu butuh, dan mikirnya “marketing kan pernah belajar pas kuliah. Kalo social media, yaa selama ini juga mainan social media”

Pekerjaan inilah yang kemudian sekarang saya geluti. Ketika melamar pekerjaan, atau berkenalan dengan orang baru, saya akan memperkenalkan diri sebagai Kinanti - Social Media Specialist. Begitulah branding yang saya bangun sekarang. Sepertinya justru yang nggak kepikiran sama sekali dari awal malah yang membawa kapal saya berlayar sejauh ini (yaa belum jauh-jauh amat sih) saya juga masih harus banyak belajar tentang internet, digital marketing, dan social media. Bicara begini bukan berarti saya sudah expert tentang social media ya.

Capek

Saat menjadi penyiar sebelumnya saya sudah mengalami yang namanya pagi siaran-siang kerja di kantor- malam baru balik - paginya siaran lagi.
Gak capek? ya capeklah! saya berkali-kali mesti minum vitamin atau obat sakit kepala karena kecapekan. Tapi gimana dong, yang satu butuh yang satu lagi suka. Antara butuh sama suka ini susah dipisahkan. Sekarang juga gitu. Pagi ngantor - malam ngebar. Capek ya capek, sering pengin nyerah aja nggak tau nih kapan bakal tahan ya. Tapi semoga bisa bertahan cukup lama sampai di titik equilibrium

Semoga kalian yang sedang dalam pencarian, atau melakukan pekerjaan tidak berputus asa ya. Memang berat tapi harus tetap dijalanin. Hari ini bakal kayak susah banget, tapi selalu ada jawaban. Saya ngomong gini kayak sampah banget mungkin kalau kalian baca. Tapi saya juga pernah di masa-masa down banget waktu ngerjain skripsi. Sampe waktu itu ketemu dosen pembimbing dan curhat “saya nggak tahu lagi Pak, skripsi ini mesti gimana”

Bohong kalau saya selalu bersemangat. Saya juga pernah putus asa, rasanya stuck di pekerjaan yang gitu-gitu aja sementara teman-teman udah berkarir dan punya kehidupan yang selangkah di depan juga bikin stress. Tapi begitulah kehidupan. Saya akan bertemu dengan orang-orang yang lebih, yang kurang, yang membuat saya cemburu, yang membuat saya merasa dicintai, membuat saya merasa dibutuhkan. Akan selalu ada nada sumbang membandingkan, atau merasa bahwa selalu ada tuntutan untuk lebih dan lebih lagi dari apa yang sekarang dicapai. Saya bukan yang paling tahu tentang kehidupan. Sedikit yang bisa saya bagi dari pengalaman dan apa yang saya rasakan. Semoga bisa tercerahkan.

Semoga kita selalu dikuatkan ya!

Semoga

semoga kita semua bisa melalui masa itu ya

semoga berhasil dengan mimpi dan apapun hal baik yang kamu lakukan saat ini

semoga saya dan kamu, kita yang sering merasa cemas dan takut bisa mulai perlahan melepaskan rasa cemas dan takut yang berlebihan itu.






















Footnote:
Saya juga pernah bercita-cita menjadi penyanyi. Kepengin ikut Indonesian Idol. Pengin jadi penulis  bikin setidaknya satu buku. Kepengin jadi dosen aja kalau nggak mendapatkan pekerjaan saat itu daaaan keinginan lainnya yang sepertinya lebih dari sepuluh kalau dihitung :D

No comments