Memahami sawang sinawang sebagai sebuah kewajaran


Seiring dengan bertambahnya usia saya menyadari bahwa rumput tetangga tidak selalu lebih baik. Ada banyak hal yang mungkin dirahasiakan agar rumput-rumput tersebut terlihat lebih hijau dibandingkan rumput di taman rumah kita sendiri atau kita memang tidak memiliki taman sehingga wajar kalau tidak bisa menanam rumput. Tetapi apa yang tidak kita miliki saat ini, terkadang dianggap sebagai ketidakmampuan kita untuk meraihnya, kekurangan dalam diri kita sehingga kita tidak setara dengan taman tetangga yang lebih hijau. Padahal ketiadaan taman di rumah kita diakibatkan pelebaran carpool karena mobil di rumah kita ada lebih dari satu. Ilustrasi tadi bermaksud memberi wawasan bahwa terkadang kita hanya fokus pada apa yang ingin kita lihat dan apa yang kita percaya saja, sehingga menutup kemampuan kita untuk melihat kemungkinan lainnya.

Masa-masa suram seperti lelah dengan skripsi, kemudian berlanjut dengan mencari kerja, mendapat kerja namun tidak sesuai ekspektasi, penolakan yang terus menerus dan penerimaan diri yang tanpa henti menjadi benteng agar semangat tidak padam. 
Lalu kemudian semua itu berhenti pada satu titik kebingungan di mana saya tidak lagi tahu harus berbuat apa? Tujuan menjadi samar. Itu kerap terjadi ketika gairah mulai melemah. Memompa semangat dengan sesekali melihat rumput tetangga ternyata berhasil untuk saya. 
Ketika lengah dan ingin menyerah saya berjalan-jalan melihat taman tetangga, rumah teman dengan bangunan yang lebih kokoh, cat yang lebih berwarna, dan mobil yang terpampang adalah seri terbaru dari merk terkenal. Lalu kemudian gairah itu muncul kembali, sepertinya hati saya terbakar tidak rela melihat itu semua. Wajar kalau disebut iri. Namun bukankah sifat seperti itu wajar pada diri manusia. Asalkan kita tidak membiarkannya tumbuh dan berkembang sehingga menanamkan dengki pada hati kita.

Saya mengerti bahwa setiap orang memiliki timeline-nya sendiri. Kita tidak bisa memaksakan sesuatu yang tidak mungkin seperti menyuruh ikan untuk terbang dan kupu-kupu berenang. Tapi katanya tidak ada sesuatu yang tidak mungkin jika kita memiliki niat dan usaha yang besar. Memangnya itu benar? saya juga belum tahu. Selama ini banyak hal yang terasa tidak mungkin akhirnya memang jadi mungkin. Tapi bukan semata-mata karena niat dan usaha, ada campur tangan semesta membawa mimpi yang tadinya hanya sekedar bunga tidur menjadi suatu hal yang pasti.

Saat saya belajar ekonomi dijelaskan bahwa keinginan manusia itu tidak terbatas, tapi sumber dayanya yang terbatas. Maka dari itu ekonomi ada, untuk mengatur antara keinginan manusia dan sumber daya untuk pemenuhannya. Maka wajar toh kalau sebagai homo sapiens selain kita tidak dapat hidup sendiri kita juga tidak mampu membatasi keinginan kita. Rasa ingin ini dan itu pasti akan selalu ada, sehingga agama yang mengatur itu semua agar kita dapat memberi masukan pada diri kita untuk merasa cukup yaitu dengan bersyukur kepada Sang Pencipta.

Wajar kalau buka instagram lihat postingan teman yang sedang liburan bersama dengan pasangan membuat kita iri, ditambah lagi kondisi kita saat ini sedang lembur mengerjakan revisi dengan bos yang galaknya minta ampun. Tapi kita juga tidak pernah tahu apa yang teman kita harus alami atau lakukan untuk mendapatkan liburan yang kita lihat di instagram tadi begitu menyenangkan (nampaknya)
Terjebak dalam situasi yang menyedihkan memang membuat kita berpikir bahwa penderitaan hanya berpihak pada kita sementara orang lain memiliki kesenangan yang tidak dapat kita gapai. Wajar saja.

Tanpa kamu bahas-pun kami sudah tahu jika siklus kehidupan memang seperti itu dan wajar adanya memelihara rasa "rumput tetangga lebih hijau" di dalam diri kita karena mungkin dengan begitu kita dapat merasa lebih hidup.

Jadi semua wajar-wajar saja toh?
lalu apa yang tidak wajar
mempertanyakan kewajaran apakah itu tidak wajar?









Photo by Chang Qing on Unsplash

Comments